HUKUM

Polda Sulsel Bakal Panggil Tiga Tersangka Korupsi Pembangunan RS Pratama Enrekang Pekan Ini

BeritaTuntas.com. Makassar.- Usai melakukan rilis penetapan tersangka atas kasus korupsi proyek Rumah Sakit Pratama Kabupaten Enrekang, Penyidik Polda Sulsel berencana melakukan pemeriksaan lanjutan atas ke tiga tersangka Korupsi Pembangunan RS Pratama Enrekang.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani mengungkapkan rencana ketiga tersangka bakal kita lakukan pemeriksaan lanjutan, tapi hingga kini ketiga tersangka tersebut cukup koperatif dalam menjalani pemeriksaan yang di gelar penyidik.

“Rencana Pekan ini penyidik bakal memangil kembali ketiga tersangka tersebut guna menjalani pemeriksaan lanjutan dari pentidikPekan ini kita akan panggil ketiga tersangka untuk pemeriksaan lanjutan,” jelas Kabid Humas Polda, Kombes Pol Dicky Sondani

Senin kemarin Polda Sulsel telah meliris tiga tersangka atas kasus Korupsi pembangunan RS Pratama di Kabupaten Enrekang, mereka adalah Dr. Marwan Ahmad karena kapasitasnya sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam proyek pembangunan RS Pratama Enrekang dari pihak swasta, Ir. Andi Kilat kapasitasnya sebagai Direktur di PT. Haka Utama dan Sandi Dwi Nugraha sebagai Direksi di PT.Haka Utama dalam pembangunan itu.

PT. Haka Utama menjadi pemenang Proyek ini, sesuai Nomor : 15 / KONTRAK / PENG. RS Pratama / DKE / XI / 2015 tanggal 9 November 2015 dengan Kontrak sebesar Rp 4.566.800 milyar rupiah.

Sebagai mana di ketahui pada tahun 2105 Pembangunan RS Pratama di Kabupaten Enrekang ini sudah dimulai. Anggaran RS Pratama ini bersal dari PAGU Anggaran sebesar Rp. 4.738 milyar, yang bersumber dari APBD.

Dasar dari penetapan ketiga tersangka tersebut adalah, adanya pemberian uang sebesar Rp. 80 juta dari tersangka Sandi Dwi Nugraha kepada Ir. Andi Kilat sebagai tanda terima kasih. Selain itu Sandi juga diduga menggantikan personil inti serta peraltan yang ditawarkan oleh Pt. Haka Utama tanpa sepengetahuan dan pertujuam dari PPK, PPTK, dan juga konsultan pengawas pembangunan.

“Diduga kuat adanya praktek korupsi pada pembangunan rumah sakit, karena sesuai analisa pengguna alat proyeknya itu sampai dibayar seperti truk dan alat berat lain pengangunan,” terang Dicky.

Selain pemberian uang, proyek ini juga mengalami keterlambatan penyelesaian dari waktu yang di tetapkan, mendapat penambahan waktu pekerjaan selama 56 hari dan juga mendapat denda keterlabatan sampai pada angka Rp. 255.740.800 rupiah.

Ketiga tersangka tersebut ditetapkan sebagai tersangka atas dasar Pasal 2 Ayat (1) Subs. Pasal 3 Undang Undang nomor 31 tahun 1999, Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dalam UU nomor 20 tahun 2001

Hasil perhitungan kerugian negara oleh BPKP Perwakilan Sulsel diperoleh hasil perhitungan sebesar Rp 1.077.878.252, 65 milyar.

—–Baca Juga—–

Berita Terkait

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top