OPINI

Massenrempulu Darurat Tata Ruang? Menanti Solusi Di RAKERNAS HIKMA

Massenrempulu

Kabupaten Enrekang pada tanggal 25 – 27 November 2016 menjadi ruang pelaksanaan Rapat Kerja Nasional Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Keluarga Massenrempulu (HIKMA). Saat itu Kota Enrekang kembali kebanjiran baliho,spanduk berlatar Buntu Kabobong, dan warna unggu dengan kehadiran 350 anak rantau Massenrempulu yang telah meruang di seantero nusantara bahkan luar negeri. Fenomena ke-HIKMA-an menarik untuk ditelisik sejarah, perkembangan dan perannya (lalu, kini dan nanti). Sejarah pendiriannya, sesuai salinan akta penegasan anggaran dasar dan anggran rumah tangga oleh notaris Drs. Andy A.Agus, SH tertanggal 18 Juli 2011 nomor 38 disebutkan bahwa HIKMA didirikan pada tanggal 17 Juli 1937 di Makassar (AD pasal 3). Data tersebut menegaskan bahwa; 1) dia lahir 8 tahun sebelum kemerdekaan RI, dan tentu para pendiri bersama warga HIKMA ikut serta berjuang memerdekaan bangsa ini, 2) menegaskan dia bukan organisasi amatiran tapi salah

satu organisasi kemasyarakat tertua Sulawesi Selatan, 3) Terbentuk dari warga perantau di Makassar atas dasar kesadaran satu ruang asal (Enrekang), 4. Dia lahir dengan semangat sosial kemanusian untuk saling tolong-menolong, bantumembantu dan nasehat-menasehati (TOBANA), tidak dan bukan kepentingan politik, dan 5) dia merupakan organisasi bersifat sosial dan nir laba.

Perkembangan HIKMA selama 79 Tahun eksis mengisi ruang diseluruh wilayah tanah air bahkan luar menunjukkan sebagai organisasi besar karena kebesarannya bukan dibesar karena hanya dibesar besarkan, modern dan profesional ditandai dari struktur organisasi yang berhirarkhi mulai Dewan Pimpinan Pusat (DPP) di Ibukota Negara, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) di Provinsi, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di Kota/Kabupaten, Dewan Pimpinan Ranting (DPR) di Kecamatan/Desa/Kelurahan bahkan Pengurus Perwakilan Luar Negeri. Menyelami sejarah singat pembentukannya, menunjukkan bahwa pemantik lahirnya HIKMA adalah kesadaran satu ruang asal dari warga perantau untuk saling menolong, membantu dan menasehati. Itulah mengapa tulisan ini mengulasnya peran HIKMA dengan teori keruangan gaya sentrifugal dan sentripetal (Colby).

Secara sederhana gaya sentrifugal adalah gerakan dari dalam menuju keluar pusatnya. Sebagian warga Massenrempulu (MASPUL) bergerak keluar ruangnya akibat full dan fush factors menuju Kota Makassar dan daerah lainnya. Sejak itulah Kota Makassar menjadi pusat gerakan sentifugal, mengelinding laksana snowball membentuk HIKMA dimanapun warga meruang untuk beraktivitas, memelihara dan melangsungkan kehidupannya. Kini HIKMA telah besar, menyebar dan konstribusinya pun tak terbilang diluar ruang asalnya (Enrekang).

Peran-peran HIKMA selama ini masih mengkonsolidasi emosional dan aktivitas sosial diantara warga dimana HIKMA terbentuk. Gaya sentrifetal adalah gerakan dari luar yang masuk kedalam. RAKERNAS HIKMA menjadi momentum bekerjanya gaya sentrifetal, dimana anak-anak rantau Massenrempulu yang telah meruang diluar dinanti konstribusinya ”meraung” diruang asalnya (Enrekang). Rakernas mengusung tema “meningkatkan sinergi menuju Massenrempulu yang lebih baik”. Mengacu KKBI, kata kerja pada tema terletak pada kata “meningkatkan” berarti menaikkan (derajat/taraf/kadar) dan kata bendanya pada “sinergi” yang berarti kegiatan dan keterangan tempat adalah Massenrempulu, serta keterangan tujuan adalah yang lebih baik. Pesan tema ini adalah PEMDA dan HIKMA dituntut menaikkan (derajat/taraf/kadar) kegiatan demi Massenrempulu yang lebih.

Dengan demikian untuk mewujudkan tema tersebut, maka model Rakernas juga harus berubah (bukan menggubah) seperti selama hanya menghasilkan “program” yang menggantung diawan-awan. Kita sangat berharap diskusi,gagasan dan ide fokus membicarakan jenis kegiatan yang dibutuhkan bagi terwujudnya ruang Massenrempulu yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.

Membangun Enrekang berarti menata ruangnya. Kegiatan pembangunan dikabupaten Enrekang tidak terjadi di dalam ruang yang kosong. Ruang tidak pernahkosong dan selalu mempunyai kualitas tertentu (Foucault. 1997). Kualitas ruangdipengaruhi oleh 2 hal yaitu wadahnya (of space) dan pengisinya (In space)(Marcus,dkk 2002). Of space merupakan wujud ruang secara fisik (daerah) dan Inspace merupakan aktivitas yang berlangsung dalam ruang dan pelaku/aktoraktivitas ruang ( penduduk dan tata kehidupan). Interaksi antara of space dan in space dalam satu atau dua wilayah administrasi akan menimbulkan perubahan atau dinamika spasial.

Dinamika ruang pada di Kabupaten Enrekang tak mungkin dihindari apalagi dihentikan. Ia akan berlangsung secara terus menerus seiring perjalanan waktu. Ruang mencerminkan waktu, demikian sebaliknya perubahan waktu menimbulkan perubahan ruang. Secara teoritis tidak ada lagi ruang yang tidak direncanakan, seluruhnya telah dibagi dalam setiap kawasan (kawasan lindung atau kawasan budidaya).

Sepatutnya dan selayaknya program-progam pembangunan berbasis pengembangan kawasan Berdasarkan data menyebutkan keadaan topografi wilayah didominasi oleh bukit dan gunung yaitu 85,96 % dan 15,04 % datar dari total wilayah Kabupaten Enrekang. Hal ini menjadi limitasi dan kendala utama pembangunan, harus diakui “fundamental problem” kabupaten Enrekang pada lingkungan atau ekologi. Menyadari hal tersebut model pengembangan kawasan pertanian (ekstensifikasi) harus segera di batasi.

Haluan kebijakan harus secepatnya dirubah kearah aktivitas jasa, agribisnis dan agrowisata, pusat benih holtikultura, pusat daging dan susu. Tidak cukupkah kita berkaca pada peristiwa / musibah langganan berupa longsor, luapan air sungai, banjir bandang, dan kekeringan yang telah menelan korban dan terus mengancam ketenangan warga. Peristiwa dan musibah tersebut secara fisik merusak dan merubah bentang alam, dan secara physicist membuat trauma yang berkelanjutan. Selain itu konflik pemanfaatan ruang kawasan tambang di Kecamatan Buntu batu dan pemanfaatan ruang pembangunan bendungan di Maiwa.

Rangkaian peristiwa dan musibah mengindikasikan Massenrempulu Darurat Tata Ruang. Semoga dengan kesadaran ruang, Buntu Kabobong (BK) sebagai Icon dan Landmark Kabupaten tidak ikut berubah bentuk/wujud. Kita masih ingin BK menjadi latar disetiap baliho dan spanduk HIKMA.

Komponen ruang terdiri atas komponen fisik dan non fisik. Komponen fisik dan non fisik ruang meliputi atmosfer (iklim), hidrosfer (Sungai, air terjun, mata air), lithosfer (pegunungan, laut, danau, bukit & goa) dan biosfer (flora,fauna dan kebun raya) dan antrosfer (bangunan sejarah, adat istiadat, kearifan lokal).

Keseluruhan komponen tersebut memiliki daya tarik masing-masing sehingga dapat menjadi sumber daya pariwisata (Enok, 2010). Berdasarkan komponen ruang Kabupaten Enrekang sempurna akan sumber daya pariwisata, sehingga sangat prosfektus mengembangkan sektor pariwisata (agro) sebagai lokomotif pembangunan. Sungai membelah kota Enrekang sejogyanya menjadi beranda kota dengan pesona daya tariknya yang dapat mendatangkan luapan wisatawan, bukan malah sebaliknya menjadi sumber luapan air.

Pegunungan dan perbukitan menjadi incaran wisatawan gemar berolah raga (Sport Tourism), aktivitas dan perilaku masyarakat desa dan lingkungan alamih, originalitas, unik, Breanding kopi kalosi, dan Pulumandoti serta Desa besas asap rokok menjadi buruan wisatawan allocentris potensial pengembangan desa wisata.

Selain potensi internal tersebut, posisi strategis Kabupaten Enrekang berhimpitan langsung Kabupaten Tana Toraja sebagai kawasan strategis nasional pariwisata (KSNP) menjadi lintasan wisatawan. Interaksi dan Sinergisme keruangan antara daerah sebuah keniscayaan. Interaksi atau imbal daya adalah merupakan suatu proses saling mempengaruhi antar dua hal atau daerah yang menimbulkan saling ketergantungan antar DTW Penangkap (Toraja) dan DTW Penahan (Enrekang) sebelum atau setelah mengunjungi Tana Toraja.

Sinergisme keruangan dimaknai munculnya nilai guna/keuntungan dari proses bekerjasama dua atau lebih tersebut yang lebih banyak atau lebih baik dibandingkan apabila masing-masing hal bekerja sendiri-sendiri. Data tahun 2015 jumlah wisatawan intrnasional melakukan perjalanan wisata sebanyak 1,18 miliar atau tumbuh 4,4% dari tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan jumlah pnduduk dunai sebesar 7,324 miliar, maka 1 dari setiap 6 orang penduduk dunia adalah wisatawan (rasio 1 : 6) . Rasio ini akan semakin tinggi jika jumlah penduduk yang melakukan perjalanan dalam negeri juga ikut dihitung. Berdasarkan data tersebut menunjukkan jika pariwisata telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari siklus hidup hampir setiap orang. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan pariwisata telah menjadi gaya hidup baru bagi masyarakat dunia

Dinamika ruang atau perubahan ruang sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia. Perilaku akan mempengaruhi dan membentuk setting of space (Amos, 1977). pendekatan perilaku menekankan pada keterkaitan antara ruang dengan manusia dan masyarakat yang memanfaatkan ruang (penghuni). Itulah mengapa ruang membentuk manusia dan manusia membentuk ruang (Edwar Soja,2005). Perilaku setting ruang sangat ditentukan oleh nilai yang dianut pada suatu komunitas. Nilai tersebut lebih dikenal dengan kearifan lokal.

Perubahan ruang haruslah bersandar pada nilai-nilai kearifan lokal Massenrenrempulu. Memang harus diakui nilai tersebut telah terlupakan dalam seluruh dimensi kehidupan, mungkin karena ketidaktahuan akibat sulit ditemukan referensinya. Semoga menjadi salah satu kegiatan yang dihasilkan di Rakernas.

Kearifan lokal merupakan kemampuan menyikapi dan memberdayakan nilai-nilai luhur budaya setempat. Oleh karena itu, kearifan lokal merupakan entitas yang sangat menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitasnya (Geertz. 2007).

Kearifan lokal merupakan instrumen kunci dalam menjaga keaslian dan harmonisasi ( alam,budaya dan manusia) sekaligus sebagai alat memfilter pengaruh arus globalisasi yang akan memuncuklan konsep-konsep dikotomik seperti Gemeinschaf Versus Gesellschat (F.Tonnies) , solidaritas mekanik versus solidaritas organik (E.Durkheim), dan kelompok primer versus kelompok sekunder (C.H. Cooley).

SELAMAT RAKERNAS,

HIKMA JAYA KARENA KARYA.

Oleh : Jamaluddin Jahid Haneng.ST.,M.Si
Sekeretaris Umum DPW HIKMA Sul-Sel

Berita Terkait

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top