OPINI

Politik Disclaimer

BeritaTuntas.com.- Politik Disclaimer Oleh Bung Suparno : Memasuki tahapan Pilkada yang terhitung beberapa bulan lagi, para kandidat mulai mempresentasi program unggulan untuk menggaet hati pemilih.

Menjamurnya baliho para kandidat yang hampir dihuni wajah lama, membuat rakyat sedikit bingung dengan aromah politik yang di lakonkan para pencari simpati rakyat.

Tak terlepas juga sang incumben yang malakukan road show walaupun di bungkus dengan presentasi program. Tapi itulah “Demo krasi lakon kreasi non ilmiah”. Tambal sulam program yang tidak kunjung usai yang bisa membuat over game sang incumben.

Di Kabupaten Enrekang misalnya data yang telah dirilis beberapa media sebelumnya “potensi incumben tumbang di pilkada serentak”. Hal ini mengumpan para penantang incumbent untuk melakukan sosialisasi baliho dan road show silaturrahim. Dengan mengolah berbagai issue realitas antara lain korupsi dan nepotisme.

Para analis politic beranggapan bahwa peluang incumbent tumbang bila hadir 3 atau 4 pasangan calon yang bertarung karena rakyat lebih ideal dan leluasa memilih pemimpin, Ketimbang hanya 2 pasangan calon yang mudah di akomodir oleh incumbent dan merupakan peluang besar untuk “oppo’ karena tidak ada pilihan alternative.

Sepertinya incumbent agak kerepotan “melawan” pendatang baru dengan kondisi kultur hari ini dengan hadirnya beberapa tokoh yang sudah menyatakan siap maju untuk Pilkada Enrekang. Di mana enrekang agak sulit di bandingkan dengan kabupaten lain yang ada di sulsel, karena enrekang terdiri dari 3 sub etnis yang tersebar di tiga dapil secara geopolitik. Yang mana per dapil di huni oleh masing_masing dapil 1 terdiri 11 anggota dewan dengan presentasi -+ 55 ribu suara dan dapil 2 ada 10 anggota dewan dengaan suara -+ 53 ribu suara dan dapil 3 dengN 9 anggota dewan dan suara -+ 50 suara. Sehingga pemetaan kandidat tergantung geopolitik.

Ketika melihat kondisi masyarakat agak cendrung pada kultur sektarianisme, dimana pemilih lebih suka memilih sesuai dengan sub kultur yang ada. Budaya politik lokal ini yang menjadi acuan pasangan turun temurun bahwa ketika dapil 1 bupati maka mesti dapil 2 atau 3 wakilnya, begitupun sebaliknya yang jelas secara geopolitik sangat susah di pasangkan antara dapil 2 dan dapil 3 dengan pertimbangan terdiri dari sub etnis yang sama. Namun anehnya di dapil 1 rasio pemilih yang mendominasi tergabung dalam 2 sub etnis yang berbeda.

Pertanyaannya adalah “apakah kandidat hari ini tidak lagi terpola dengan sistem pasangan yang mengakomodir ketiga sub etnis itu?”Jawabannya tergantung dari potensi kandidat hari ini..

Bahwa kecendrungan masyarakat hari ini lebih memilih kepada kandidat bisa memberi persentase besar keberhasilan dibandingkan dengan apa yang sudah “diciptakan” pemimpin menciptakan kerberhasilan baru.

Pro Rakyat dan safari politik itu hanyalah demonstrasi simpati mengecoh nalar kebenaran. Bilamana wataknya memang dengan curang yang dirancang.

Silahkan mana karya itu Untuk membangkitkan ekonomi rakyat dan menjungkirbalikkan harga-harga petani.
selain menekan rakyat agar keterganrungan janji manis & program Gratis akalan.

Atau adakah dari kaum intelektual, petani jenius, PNS yang bernalar ilmiah mampu mengantarkan pemimpin yang bermartabat, yang mementingkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi, keluarga & kelompok kepada rakyat.

Oleh : Bung Suparno  (Tenaga Ahli Fraksi Partai Gerindra DPRD Provinsi Sulawesi Selatan )
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BeritaTuntas.com Merupakan Situs Portal Berita Online Yang Menyajikan Merita Terbaru, Terhangat,Dan Terpercaya Seputar Peristiwa Terkini Dengan Berbagai Macam Topik Pembahasan Mulai Dari Hukum ,Ekonomi Bisnis,Politik,Pilkada,Hiburan,Teknologi,dan Berbagai Opini dari Para Tokoh di Segala Bidang.

To Top