OPINI

Toilet Dan Bilik Suara Oleh dr.Fikri Suadu

Toilet Dan Bilik Suara Oleh dr.Fikri Suadu

BeritaTuntas.com.Toilet Dan Bilik Suara Oleh dr.Fikri Suadu : Rakyat tak mau keluar insentif untuk kedaulatan. Makanya kedaulatan dibajak pemilik modal. Indikasinya jelas terlihat pada setiap pesta demokrasi, rakyat disuguhi berbagai jargon kampanye yang isinya gratis gratis melulu. Padahal kita semua tahu kalau tak ada lagi yang gratisan, wong kencing aja bayar.

Anehnya, untuk kencing dan buang hajat, rakyat rela keluarin insentif kebersihan sebesar dua ribu sampai lima rubu rupiah, padahal yang dibuang itu najis dan kotoran. Pun demikian halnya dengan sampah, rakyat rela keluarin insentif sebesar belasan hingga puluhan ribu perbulan. Makanya tak heran jika soal kencing, buang sampah dan air besar, rakyat tetap memiliki kedaulatan. lha wong mereka memberikan insentif untuk itu. Bisa jadi jika kemudian insentif buang kotoran dan buang sampah diambil alih dan dibayarkan pemilik modal, mungkin dalam urusan itu rakyat akan kehilangan kedaulatan.

Sayangnya tradisi pemberian insentif untuk buang sampah dan kotoran itu tidak berlaku dalam hal pemberian suara saat Pemilu, Pileg, dan Pilkada. Padahal derajatnya jelas lebih tinggi dari buang kotoran dan sampah. Lha yang dipilih soal nasib dan masa depan negara. Akhirnya insentif rakyat untuk pemberian suara diambil alih oleh pemilik modal. Makanya jangan protes jika pemimpin dan wakil rakyat kita lebih patuh pada mereka. Hal wajar karena mereka yang memberikan intensif saat para pemimpin dan wakil rakyat itu beradu di bilik suara.

Mungkin saja bakal lain kondisinya jika rakyat rela mengeluarkan insentif pada saat pemberian suara. Misalnya untuk memilih pemimpin dan wakilnya, rakyat mau membayar lima puluh hingga seratus ribu rupiah per kepalanya. Atau minimal seikhlasnya, semampunya saja. Alias secara suka rela memberikan uang untuk biaya kampanye calon pemimpin dan wakil yang diusungnya.

Maka bisa dipastikan bakal tak ada ruang lagi bagi pemilik modal untuk mengeluarkan uangnya, toh insentifnya sudah dibayarkan rakyat. Lagi pula rakyat yang dengan sadar memberikan insentif itu tak lagi mau menjual suara mereka. Dengan begitu kedaulatan pasti kembali ke tangan rakyat, sebab para pemimpin dan wakil rakyat tak terbebani hutang ke para pemilik modal yang mendanai mereka.

Sayangya kesadaran pemberian insentif itu masih berlaku dalam toilet dan bak sampah saja, belum menular sampai ke bilik suara. Apakah itu tandanya jika membuang kotoran dan sampah jauh lebih berharga dari pada membangun dan mempertahankan kedaulatan negara?
Walahualam bishawab…
(fs)

Oleh :  dr.Fikri Suadu Direktur Exekutif Indonesia Hospital an Clinic Watch

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BeritaTuntas.com Merupakan Situs Portal Berita Online Yang Menyajikan Merita Terbaru, Terhangat,Dan Terpercaya Seputar Peristiwa Terkini Dengan Berbagai Macam Topik Pembahasan Mulai Dari Hukum ,Ekonomi Bisnis,Politik,Pilkada,Hiburan,Teknologi,dan Berbagai Opini dari Para Tokoh di Segala Bidang.

To Top